Nelayan Korban Tsunami Jepang Suka Sambal Indonesia

Tim “Indonesia Peduli Tohoku” dengan personil sebanyak 8 orang yang merupakan gabungan dari beberapa ormas (PKPU, Forkita, KAMMI Jepang, FG-Asmara, IPTIJ, FLP Jepang, Fahima, AMIR Malaysia) bekerja sama dengan KMII (Keluarga Masyarakat Islam Indonesia) Jepang, PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) Jepang, ATC, MRA (Malaysian Relief Agency) dan MIIAS (Masyarakat Islam Indonesia Australia Selatan) kembali melakukan aksi sosial menghidangkan makan siang berupa makanan khas Indonesia, Nasi Goreng Spesial, kepada lebih dari 120 pengungsi tsunami di daerah Ishihama.

Ishihama merupakan salah satu daerah tepi pantai di kawasan Minamisanrikucho, Miyagi Prefecture, Jepang, yang beberapa waktu lalu luluh lantak dilanda gelombang tsunami. Dikabarkan daerah ini sempat terisolasi untuk beberapa waktu sehingga bantuan dari luar tidak dapat tersalurkan kepada para pengungsi di sana dikarenakan jalan penghubung ke daerah tersebut rusak parah.

Berdasarkan catatan
pemerintah Jepang, setidaknya lebih dari 14 ribu orang dinyatakan tewas dan lebih dari 11 ribu orang lainnya dinyatakan hilang akibat bencana yang mengguncang Jepang pada 11 Maret 2011 ini.

Sekitar dua bulan sejak gempa dan tsunami terjadi, keadaan pengungsi maupun perumahan di daerah ini berangsur membaik. Para pengungsi terlihat mulai menempati rumah-rumah mereka kembali. Namun sayangnya infrastruktur penopang kehidupan seperti listrik dan air masih jauh dari kata pulih.

Untuk menyimak berita televisi dan menikmati terangnya lampu di malam hari, penduduk harus berkumpul di balai warga, satu-satunya tempat di mana listrik bisa didapat dari generator listrik berdaya kecil. Pasokan bahan makanan dari luar begitu diharapkan untuk memenuhi kebutuhan pangan para pengungsi yang sebagian besar dari mereka bermata pencaharian sebagai nelayan.

Di tengah goyangan lidah para pengungsi menyantap nasi goreng spesial lengkap dengan telur mata sapi, sosis dan timunnya, mengalir cerita-cerita seputar kesibukan mereka membersihkan puing-puing akibat bencana. Ternyata belum banyak tenaga sukarela dari luar yang datang hari itu untuk membantu. Mereka sangat berharap akan ada banyak tenaga sukarela yang mau bekerja bersama mereka sehingga proses pemulihan daerah tersebut segera terwujud.

Di antara sekian banyak pengungsi berusia lanjut, ada sesosok pengungsi mungil yang selalu terlihat ceria makan bersama keluarganya, Satou Miu Chan (panggilan akrab anak perempuan) yang sejak April 2011 ini terhitung naik kelas 5 SD. SD Natari tempat Miu Chan bersekolah dulu sudah tak dapat berfungsi lagi karena hancur diterjang tsunami. Sehingga Miu Chan harus mengalah untuk pindah ke sekolah yang agak jauh yang masih selamat dari amukan ombak bencana.

Obrolan santai dengan para pengungsi mengalir menyelingi aktifitas-aktifitas bantuan, seperti menghangatkan air bak mandi pengungsi, membagikan air mineral dan sayuran kepada keluarga di sekitar pengungsian. Dari beberapa obrolan tersebut, ternyata beberapa di antara pengungsi mempunyai pengalaman berlayar ke Indonesia, sebagian lain mempunyai pengalaman bekerja bersama pelaut atau pekerja dari Indonesia. Dan menariknya beberapa ibu-ibu di sana ternyata penggemar sambal Indonesia. Beberapa botol sambal yang dibawa dari Tokyo akhirnya diberikan kepada ibu-ibu ini.

Kehangatan dan kebersamaan menyelimuti aktifitas dari pagi hingga siang hari, hingga tiba saatnya tim untuk undur diri. Beberapa bingkisan untuk anak-anak pengungsi berisi jajanan dan pin persahabatan serta pesan penggugah diberikan kepada kepala pengungsian, Ibu Sato Masako. Tidak lupa juga satu kotak kardus penuh berisi paket bumbu dapur dan juga selembar karton Yosegaki (kumpulan coretan pesan penyemangat) dari masyarakat Indonesia di Tokyo diserahkan oleh pimpinan rombongan Yonanda Adhitama, perwakilan Forkita yang dulu pernah kuliah di Tohoku University.

Tim tidak pulang dengan tangan hampa, karena cinderamata berupa pelampung yang terbuat dari kaca yang dibalut oleh ikatan tali yang menyelimutinya semakin menunjukkan betapa eratnya persahabatan yang terjalin antara masyarakat kedua negara.

Salah seorang relawan anggota tim, Mohamad Darussalam, yang sehari-harinya bekerja di Kedutaan Besar Republik Indonesia Tokyo mengungkapkan kesannya yang begitu mendalam akan keakraban yang sangat terasa dalam aktifitas kemanusiaan antara masyarakat Indonesia dan Jepang ini, sehingga berharap untuk bisa bergabung dalam aktifitas sosial ini kembali di masa datang.

Relawan lainnya, Miyasaka Ippei, yang notabene adalah orang Jepang yang menikah dengan orang Indonesia merasa sangat beruntung sekali bisa menyaksikan dari dekat begitu kuatnya ikatan persaudaraan antara orang Indonesia dan Jepang. Bahkan momen kepulangan tim Indonesia Peduli Tohoku ini tidak lepas dari titikan air mata beberapa pengungsi, diiringi dengan bungkukan badan yang begitu mendalam sebagai ungkapan rasa terima kasih.

sumber

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: